Home Warta Nusantara

Bupati Meranti Irwan Nasir Ungkap Manfaat Pemekaran Otda di Jakarta

19
Bupati Meranti Irwan Nasir
Bupati Meranti, Irwan Nasir membeberkan manfaat otda dalam diskusi di Jakarta, Jumat (28/8/20). (F: barakata.id /ist)

Barakata.id, Jakarta – Bupati Kepulauan Meranti, Irwan Nasir mengungkap beberapa manfaat pemekaran wilayah di era otonomi daerah (otda). Hal itu dibeberkan Irwan saat menjadi narasumber dalam program Bincang-Bincang Otda di Jakarta, Jumat (28/8/20).

Perbincangan itu dipandu oleh mantan Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Prof Djohermansyah Djohan.

Program diskusi publik itu dalam rangka bedah buku berjudul, Koki Otonomi Kisah Anak Sekolah Pamong karya Djohermansyah. Buku tersebut diterbitkan oleh Kompas Gramedia.

“Kami menghadirkan Pak Irwan Nasir Bupati Kepulauan Meranti, Riau yang dalam catatan otda perkembangannya sangat baik,” ungkap Djohermansyah memulai diskusi yang disaksikan puluhan orang tersebut.

Baca Juga :
PKS Tawarkan Ismeth-Suryani ke Demokrat untuk Pilkada Kepri

Dia pun meminta Irwan menceritakan pengalaman hampir 10 tahun menjadi Bupati.

“Dua kali beliau terpilih jadi Bupati itu tidak mudah. Tentu banyak pengalaman yang menarik didiskusikan,” katanya.

Irwan pun kemudian memulai kisahnya dengan perjuangan pemekaran Meranti. Menurutnya, sebelum pemekaran persentase kemiskinan di daerah itu mencapai 43 persen lebih.

Padahal Meranti berada di Provinsi Riau, provinsi kedua terkaya di Indonesia.

“Melihat fakta itulah tokoh-tokoh Meranti baik di dalam maupun di luar daerah seperti Batam, Pekanbaru dan Jakarta akhirnya mendorong pemekaran, hingga akhirnya Meranti menjadi daerah otonomi baru akhir tahun 2009 dan melaksanakan pilkada tahun 2010,” ujarnya.

Saat mengikuti pilkada, cerita Irwan, dirinya menjabat Kabid Pajak di Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Provinsi Kepri. Sementara Meranti berada dalam wilayah Provinsi Riau. Ketika itu ada lima pasangan calon yang ikut pilkada. Hingga takdir Allah menentukan Irwan meraih suara terbanyak meskipun usianya paling muda dari pasangan calon lain.

Lalu, apa langkah pertama yang dilakukan Irwan ketika terpilih? Tanya Djohermansyah.

Irwan mengaku dirinya sudah mengidentifikasi bahwa akar dari masalah kemiskinan itu adalah aksesibilitas. Baik itu akses antardesa, akses ke sumber-sumber ekonomi, akses memperoleh pendidikan, kesehatan, layanan pemerintahan dan akses mendapatkan modal.

“Yang pertama tentu akses jalan antardesa dan ke pusat-pusat kegiatan ekonomi masyarakat terutama pasar yakni ke ibu kota kabupaten. Infrastruktur jalan ini terus kita bangun setiap tahun secara masif,” kata Irwan.

Bagaimana dengan kegiatan ekonomi masyarakat?

Irwan mengaku, dirinya melihat potensi daerah adalah potensi yang ada dalam masyarakat. Saat itu dia melihat sagu sebagai potensi meskipun pada kenyataannya sagu tidak diperhatikan sebagai komoditi pangan oleh banyak pihak pada waktu itu.

“Kami terus mendorong potensi sagu ini mulai dari pengembangan budidaya pembibitan, perkebunan, membuka akses pasar dan promosi dalam skala lebih luas dan berkelanjutan,” cerita Irwan.

Alhamdulillah, sambung Irwan, komoditi sagu semakin diterima secara nasional. Bahkan Meranti juga berhasil meluncurkan sekitar 360 aneka produk pangan olahan sagu hingga mendapatkan rekor Muri.

Bahkan kini, Bulog juga sudah bersedia membeli tepung sagu berkat lobi-lobi yang dilakukan Pemkab Meranti.

“Tiap tahun APBD kita pada kisaran 1 triliun sampai 1,5 triliun. Namun transaksi sagu kita yang dijual keluar daerah mencapai 2 triliun rupiah per tahun. Ini potensi ekonominya signifikan dalam mendorong perputaran uang di daerah,” kata dia.

Bupati Meranti, Irwan Nasir membeberkan manfaat otda dalam diskusi di Jakarta, Jumat (28/8/20). (F: barakata.id /ist).

Irwan menambahkan, upaya mendorong perkembangan sektor pertanian dan perkebunan lainnya seperti padi, kopi, dan kelapa juga turut membantu pihaknya menekan angka kemiskinan. Selain itu juga didorong upaya pengembangan nelayan budidaya dan peternakan.

“Kita sangat bersyukur dalam 10 tahun ini angka kemiskinan dibawah 28 persen,” kata Irwan.

Baca Juga :
Munculnya Marlin Rudi Mengubah Peta Pilgub Kepri

Hal itu pun dikomentari Prof Djohermansyah sebagai satu pencapaian luar biasa.

“Biasanya butuh dua puluhan tahun untuk menekan hingga 20 persen angka kemiskinan itu,” katanya.

Di akhir diskusi, Irwan menjelaskan bahwa otonomi adalah berkah bagi kemajuan daerah bila semua pihak bisa bekerjasama mengangkat potensi yang ada.

*****

Editor : Ali Mhd

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin