Berburu Paus, Tradisi Nelayan Lamalera di Pulau Lembata

84
Seorang warga menjemur daging ikan paus yang berhasil di dapatnya di pantai Lamalera, Nusa Tengara Timur (22/8). (F: Oscar Siagian/Getty Images)

Barakata.id, Lamalera – Setiap bulan Mei-November, warga nelayan Desa Lamalera di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur akan sibuk berburu paus. Itu adalah tradisi Lamalera yang sudah hadir sejak berabad-abad lamanya.

Diperkirakan, tradisi berburu paus sudah dimulai sejak tahun 1500-an, bersamaan dengan berdirinya kampung nelayan Lamalera di ujung selatan Lembata. Sejatinya, mereka tidak memburu paus, melainkan menangkap. Itu pun hanya jenis paus tertentu saja.

“Mereka hanya menangkap paus sperma—bukan jenis lain—di perairan dekat Lamalera,” kata Bona Beding, pria asli Lamalera yang aktif di bisnis penerbitan, dilansir Tempo.co, Sabtu (17/8/19).

Baca Juga : Pemantun Pernikahan, Menjaga Tradisi Pantun di Bumi Kepri

Paus yang ditangkap dibagikan ke semua warga desa—sekitar 3.000 jiwa. Dagingnya seolah-olah persembahan kampung bagi para janda, fakir miskin, dan yatim piatu, yang mendapat bagian lebih dulu.

Setelah kebutuhan seluruh desa terpenuhi, sisanya dibarter dengan bahan kebutuhan pokok semacam jagung dan beras dengan desa tetangga. Atau dijual untuk biaya sekolah anak dan kebutuhan lain.

Para nelayan Lamalera menggunakan peledang atawa perahu kayu tradisional tanpa mesin dengan layar yang dibuat dari anyaman daun pandan. Mereka tak menggunakan perahu motor, karena takut baling-baling bakal melukai paus

Tali untuk menangkap paus dirajut dari daun pohon gebang dan serat batang waru. Untuk menangkap mamalia laut raksasa itu, para matros alias penangkap paus memakai seutas leo alias tali sakral.

Tali ini terbuat dari kapas yang dipintal dan dilumuri getah kulit pohon turi sebelum dikeringkan. Setelah dipakai, gulungan leo disimpan di bilik khusus rumah adat. 

Pagi itu, nelayan Lamalera hendak mengadakan perburuan terhadap paus yang merupakan bagian dari tradisi lokal warga setempat. Perburuan paus diwariskan sejak zaman dahulu kala dari leluhur mereka.

Setelah mempersiapkan peralatan, Lamafa atau juru tikam bersama beberapa nelayan lainnya mulai naik perahu kecil, menyusuri wilayah perairan Lamalera.

Syarat jadi juru tombak alias lamafa sangat sederhana: ia harus lelaki baik-baik, prilakunya sopan, dan taat beribadah. Bisa berburu pagi hari, malamnya ia dilarang menggauli istrinya.

Bila pantangan itu dilarang, warga meyakini, tak bakalan bisa menangkap satu paus pun.

Warga Lamalera telah menganggap paus sebagai anugerah Ilahi. Sebab itu, mereka tak gegabah atau berburu untuk komersial.

Mereka hanya menangkap seperlunya, bahkan dalam setahun tidak boleh lebih dari 20 ekor. Itupun, hanya paus tua yang tak produktif.

Mereka tak akan menyerang paus muda atau paus bunting. Mata mereka sudah sangat jeli melihat tanda-tanda paus yang boleh diburu dan jadi pantangan.

Melanggar aturan turun temurun, mereka yakini bakal mendatangkan musibah bagi kampung.

Setelah beberapa menit menyusuri lautan, pandangan nelayan ini tertuju pada segerombolan paus yang melakukan akrobat laut. Sesekali mamalia laut itu meluncur ke udara, dan jatuh ke air laut. Paledang – kapal kayu berlayar anyaman daun pandan yang ditenagai dayung – meluncur kea rah paus.

Sang lemafa berdiri di ujung kapal. Saat menemukan sasaran, ia melompat dan mengincar batok kepala paus. 

Desa berhias tulang belulang paus

Sebagai kampung pemburu paus, tulang belulang paus menghiasi beberapa sudut desa. Bahkan gerbang Desa Lamalera terbuat dari tulang paus.

Anak-anak Lamalera bermain di pantai di depan kerangka kepala ikan paus, Selasa 10 Mei 2016. Nelayan Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), menangkap ikan paus tersebut pada 29 April 2016. (F: Tempo/Nur Haryanto)

Paus memang menjadi berkah. Paus yang berhasil ditangkap dibawa ke pantai, dan dibagi oleh tetua kampung.

Setiap orang mendapat bagian sesuai dengan jasa mereka dalam perburuan. Tulang-tulang paus dimanfaatkan sebagai kerajinan berupa cincin, bahkan daging dan kulitnya diambil minyaknya untuk lampu minyak.

Mulanya, perburuan paus di desa itu ditentang LSM yang bergerak di bidang pelestarian alam, World Wide Fund for Nature (WWF) dan Greenpeace. Setelah mereka melihat sendiri, aktivitas perburuan yang tak serampangan dan bukan untuk tujuan komersial, suara-suara sumbang itupun berhenti.

Baca Juga : Kawasan NTB Resmi Jadi Cagar Biosfer Dunia

Tradisi Lamalera diadakan sekitar Mei hingga November, yang merupakan bulan migrasi paus. Mamalia laut itu melintasi Laut Sawu, bermigrasi dari Laut Banda menuju Samudera Indonesia.

Saat itulah paledang diluncurkan ke laut, dengan pendayung 6-10 orang. Sementara dalam berburu, melibatkan tiga hingga empat paledang.

Paus yang mereka incar hanyalah paus sperma atau koteklema dalam bahasa setempat.

*****

Sumber : Tempo.co

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini