Home Nusantara Bekasi Masuk Kota Paling Toleran, Seperti Apa Wajah Toleransi di Indonesia?

Bekasi Masuk Kota Paling Toleran, Seperti Apa Wajah Toleransi di Indonesia?

Kota Bekasi
Kota bekasi (DPRD kota Bekasi)
Himbauan Pemprov Kepri

Ikuti kami di Google Berita

Barakata.id, Bekasi Toleransi merupakan perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Tanpanya, Indonesia bisa tercerai-berai dan kebencian bisa merajalela. Pasalnya, negeri ini terdiri atas berbagai macam suku, budaya, agama, dan latar belakang. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia memiliki setidaknya 1.340 suku bangsa yang berbeda.

Pentingnya toleransi juga sering diulang-ulang oleh tokoh masyarakat. Dalam milad ke-109 Muhammadiyah, Kamis, 18 November 2021, misalnya. Presiden Joko Widodo menggunakan momen itu juga mengajak semua pihak untuk berkontribusi dalam penciptaan dunia yang damai dan toleran. 

Dia berharap nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sekaligus status negara Islam terbesar dunia bisa menjadi rujukan negara-negara lain.

Baca juga : Mengupas Keragaman Agama dan Toleransi Antar-Umat Beragama di Indonesia

“Kita bisa menjadi rujukan bagi dunia, islam yang berkemajuan dan islam wasthiyah yang diperjuangkan persyarikatan Muhammadiyah. Bukan hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga relevan bagi dunia,” kata Jokowi.

Pada kesempatan lain, Ketua DPR RI Puan Maharani juga pernah menekankan pentingnya peran keluarga dalam memastikan anak-anak tumbuh dengan mengamalkan sikap toleransi dan menjunjung tinggi kebhinekaan.

Puan menyebut bahwa menjaga toleransi merupakan tugas semua komponen bangsa, bukan tugas pemerintah semata. Dia pun mengatakan peran penting perempuan dalam menanamkan dan memperkuat toleransi.

Baca juga : Natalius Pigai Soroti Kasus Umat Sigi dan Pembunuhan Pendeta

“Perempuan dapat berperan dalam perdamaian dengan menyebarkan nilai damai dan toleransi di masyarakat. Hal ini dapat dilakukan perempuan dengan memulai pendidikan keluarga di rumah untuk mengajarkan nilai damai dan toleransi sejak anak-anak,” kata Puan. 

Sementara itu, penulis sekaligus pendiri EO DAMAI Dedy Abrar Hamsir dalam acara bertema tema “Media Sosial sebagai Sarana Meningkatkan Demokrasi dan Toleransi”, mengatakan pentingnya media sosial dalam membangun toleransi di Indonesia.

“Media sosial bisa dimanfaatkan untuk membangun toleransi dan merawat demokrasi. Misalnya, untuk membuat kampanye kepedulian terhadap jalannya demokrasi, mengemukakan pendapat atas isu yang sedang tren,” kata Dedy.

Apa itu toleransi?

Tentunya, toleransi perlu dipahami lebih dalam dari sekadar definisi. Meski demikian, pengetahuan ini juga penting sebagai basis untuk memahami toleransi agar bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dilansir dari Psychology Today, toleransi adalah sikap adil, objektif, dan menghargai orang lain yang berbeda pendapat, kebiasaan, sifat fisik, ras, budaya, dan agama. Sikap toleransi membuat kita dapat menghargai orang lain tanpa bersikap emosi dan memaksakan pendapat sendiri dengan semena-mena.

Sementara itu, para tokoh akademisi juga pernah memberikan pengertian tentang toleransi. Menurut Tillman, toleransi adalah sebuah sikap untuk saling menghargai, melalui pengertian dengan tujuan untuk kedamaian. Toleransi bahkan disebut-sebut sebagai faktor esensi dalam terciptanya sebuah perdamaian.

Baca juga : Anak Muda Jadi Target Kelompok Radikal, Pendidikan Kebhinekaan Semakin Penting

Max Isaac Dimont juga mengemukaan pendapat serupa. Dia menyebut, pengertian toleransi adalah sikap untuk mengakui perdamaian dan tidak menyimpang dari norma-norma yang diakui dan berlaku. Toleransi juga diartikan sebagai sikap menghormati dan menghargai setiap tindakan orang lain.

Lalu menurut Friedrich Heiler, pengertian toleransi adalah sikap seseorang yang mengakui adanya pluralitas agama dan menghargai setiao pemeluk agama tersebut. Ia menyatakan, setiap pemeluk agama mempunyai hak untuk menerima perlakuan yang sama dari semua orang.

Kota paling toleran

Sebuah riset yang dilakukan oleh Setara Institute tentang toleransi di Tanah Air cukup menggelitik. Lembaga ini pernah merilis laporan Indeks Kota Toleran Tahun 2020. 

Dalam laporan tersebut, terdapat 10 kota di Indonesia yang memiliki skor toleransi tertinggi. Scoring dalam studi ini menggunakan skala numerik 1-7, artinya gradasi dari kualitas buruk ke baik, 1 itu paling buruk, 7 itu paling baik.

Adapun 10 kota paling toleran di Indonesia adalah Salatiga (skor 6,7), Singkawang (6,4), Manado (6,2), Tomohon (6,2), Kupang (6,0), Surabaya (6,0), Ambon (5,7), Kediri (5,5), Sukabumi (5,5), dan Bekasi (5,5).

Baca juga : Selain Berjiwa Muda, Pemimpin Perlu Memiliki Kriteria Berikut Ini!

Direktur Riset Setara Institute, Halili mengungkapkan, terdapat beberapa atribut yang harus dimiliki agar suatu kota memiliki skor toleransi yang tinggi. 

“Kota yang memiliki rencana dan kebijakan pembangunan yang kondusif bagi praktik dan promosi toleransi,” ujar Halili. 

Selain itu, lanjutnya, tindakan pejabat di kota tersebut juga harus kondusif bagi praktik toleransi. Kota toleran juga harus memiliki tingkat pelanggaran kebebasan beragama atau berkeyakinan yang rendah atau bahkan tidak ada sama sekali. 

Kota toleransi pun perlu menunjukkan upaya yang cukup dalam tata kelola keberagaman identitas warganya. Dalam studi tersebut, Setara menetapkan empat variabel dengan delapan indikator untuk menentukan skor toleransi pada suatu kota.

Baca juga : 7 Sifat Perempuan Lahir Bulan September, Punya Jiwa Kepemimpinan Tinggi!

Variabel regulasi yang pertama adalah pemerintah kota (Pemkot) dengan indikator yakni, RPJMD dan produk hukum pendukung lainnya serta kebijakan diskriminatif. Kedua adalah tindakan pemerintah. Indikatornya terdiri dari pernyataan pejabat kunci tentang peristiwa intoleransi dan tindakan nyata terkait peristiwa tersebut. 

Variabel selanjutnya adalah regulasi sosial dengan indikator peristiwa intoleransi serta dinamika masyarakat sipil terkait peristiwa intoleransi. Halili mengatakan, variabel terakhir adalah demografi agama. Indikator yang tercakup dalam variabel ini adalah heteregonitas keagamaan penduduk dan inklusi sosial keagamaan.

SebelumnyaKetum Perkit Silaturahmi ke Kapolda Kepri, Anggelinus: Perkit Komitmen Jaga Kamtibmas
SelanjutnyaMaraknya Pelecehan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak, Tak Mengenal Nama dan Usia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin