Home Gaya

Awas, Sering Nyinyir Pemilu di Medsos Berisiko Gangguan Jiwa

63

Pemilu 2019 sudah menimbulkan kegaduhan tanpa jeda di media sosial (medsos). Sejak pencalonan hingga tahapan penghitungan suara, masing-masing pendukung calon masih terus saling nyinyir.

Ada saja yang dinyinyiri. Bukan hanya soal kelebihan dan kekurang calon presiden maupun legisy, tapi juga sering menyerempet lembaga penyelenggara dan pengawas Pemilu.

Padahal, kebiasaan itu bisa berbahaya, loh. Menurut praktisi kesehatan jiwa, keseringan nyinyir di medsos soal pemilu berisiko gangguan jiwa. Nah!

Karena itu, mulai sekarang berhati-hatilah. Sebaiknya kita mengerem sedikit jari-jari ini untuk tidak larut dalam “pertempuran” opini di medsos.

“Tentu punya (risiko). Ketika kita larut dan terobesi terlalu dalam tentang sesuatu termasuk tentang pilpres dan pileg, tentu menjadi rentan mengalami gangguan jiwa, misalnya psikosomatis dan gangguan cemas depresi,” kata Dr I Gusti Rak Wiguna, SpKJ dari RSUD RSUD Wangaya Kota Denpasar, dr I Gusti Rai Wiguna, SpKJ, dilansir dari Detik.

Apalagi, lanjut dr Wiguna, menelusur pada kasus nyata yang ditemuinya, ternyata ada loh orang-orang yang mengalami gangguan cemas akibat hasil pemilu yang tidak sesuai dengan harapan para pendukung jagoan pemilu. Keluhannya beragam, mulai dari susah tidur sampai sakit mag.

“Setelah pemilu serentak tahun ini, ada lima kasus yang konsultasi ke klinik. Mereka mengalami gangguan cemas depresi atau psikosomatis dipicu oleh pascapemilu ada yang tak berkenan di hati.”

“Mereka umumnya mengalami gangguan tidur, mudah emosi disertai keluhan-keluhan fisik seperti pusing dan maag. Konsumsi rokok dan kopi juga meningkat dari biasanya,” kata dia.

Tanda Gangguan Kejiwaan Ringan

Dokter spesialis kejiwaan lainnya, dr Bagus Surya Kusumadewa, SpKJ menambahkan, ada hal-hal yang perlu diwaspadai ketika kita mengalami atau menemukan tanda-tanda yang mencirikan gangguan jiwa ringan.

Meski pemilu telah berakhir, hasil penghitungan suara untuk capres dan caleg belum keluar. Tentu saja hal ini bisa membuat hati deg-degan, bukan tak mungkin mempengaruhi kejiwaan.

Menurut dr Bagus tanda yang paling gampang bahwa seseorang ketika mengalami kecemasan itu adalah tidurnya terganggu.

“Jadi kalau semua gangguan jiwa apapun itu pasti ada gangguan tidurnya. Misalnya asal tidur sudah terganggu berarti dia ada gangguan sesuatu yang perlu kita pikirkan,” kata dr Bagus di sela kunjungan tematik bersama Kementerian Kesehatan RI di Bali, Rabu (24/4/19).

Yang kedua, apabila ditemukan perubahan sikap, perilaku, kebiasaan sehari-hari, atau emosi. Saat merasa ada yang berbeda dari keluarga atau sahabat kita, maka pahami perubahan-perubahan yang nampak.

Misalnya, orang yang awalnya pendiam, mendadak jadi orang yang periang atau banyak bicara.

Atau, orang yang dulunya sok kenal sok deket, banyak ngerecokin temannya, sekarang jadi sangat pendiam.

“Mungkin dikira ‘oh orangnya berubah sudah lebih baik lagi’, padahal tidak. Itu tanda bahwa sedang terjadi sesuatu dalam otaknya, sehingga terjadi perubahan perilaku,” katanya.

Di kesempatan yang sama, Psikolog Klinis, Ni Gusti Ketut Diana Setiawati juga membenarkan tanda-tanda yang disampaikan dr Bagus.
Menurutnya, ciri-ciri yang dijelaskan oleh dr Bagus sudah bisa menjadi hal yang harus diwaspadai.

“Paling tidak, kalau dari keluarga sudah melihat ciri-ciri seperti itu kemudian mencoba membantu tidak bisa, sebaiknya ya segera minta bantuan ahli,” sarannya.

*****

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin