Home Urban Catatan

Akal Adalah Senjata Sewaan

Dr. Surianto
- Analis Kebijakan Ahli Madya Ditjen Pemasyarakatan
- Lektor Manajemen Strategis PPs.ITB Nobel Indonesia-Makassar

41
Dr. Surianto
Dr. Surianto
artikel perempuan

Barakata.id, Teknologi informasi yang semakin eksis dan jamak dalam kehidupan manusia menjadi Variabel dominan yang mengambil peran penambahan kapasitas kemampuan manusia. Sehingga Batas sebagai ketidak mampuan subyektif manusia, semakin melar dan nyaris tak terkontrol. Ketika dua manusia berdiskusi, maka sesungguhnya diantara mereka sedang hadir robot pintar yang siap menyajikan semua informasi yang menjadi bahan diskusi itu. Cukup dengan memasukkan kata kunci/keyword, maka pilihan menupun tersaji. 

Sebelum ada Hand Phone (HP) saya hanya bisa menghapal dua nomor telpon rumah yang digitnya lima ditambah kode wilayah yang digitnya empat, itupun nol adalah angka wajibnya. Tapi dengan hadirnya hand phone(HP) ratusan nomor telpon dengan digit lebih dari sebelas bisa saya simpan dan buka kembali hanya dalam hitungan sconde detik.

BACA JUGA : Fenomologi Seragam

Dari dunia informasi teknologi ini jugalah semua manusia terhubung dalam banyak dunia sosial yang terlihat lihat sangat polarisatif. Hal-hal yang sering kita “klik” akan muncul pada rating teratas setiap kali kita membuka media sosial kita, bahkan notifikasinya selalu muncul dalam layar peralatan kita sebagai hal yang sangat direkomendasikan. 

Fenomena ini menjadikan manusia tanpa sadar terjebak dalam logika fallaci, menganggap benar apa yang sering itu, dan cenderung malas untuk melakukan ricek pada yang lain. Demikian yang acapkali muncul belakang ini, dimana “akal sehat telah menjadi jargon yang menuhan”.

Dalam The Golden Bough: A Study in Comparative yang terbit pertama kali tahun 1890, antropolog Skotlandia Sir James George Frazer, menerangkan bahwa manusia memecahkan masalah-masalah hidupnya dengan akal dan sistim pengetahuannya yang terbatas. Makin maju kebudayaannya, makin luas batasnya. 

Lebih lanjut dijelaskan bahwa ketika kebudayaan batas akal manusia masih sangat sempit, maka persoalan hidup yang tidak dapat mereka pecahkan dengan akal, dipecahkan dengan magic atau ilmu ghoib. Tapi pada titik tertentu manusia mulai menyadari bahwa ilmu ghoib tidak berarti banyak bagi manusia, yang kemudiaan mengantarkan peradaban manusia pada kepercayaan akan adanya kekuatan lain yang menguasasi seluruh alam. Inilah yang kemudian disebut religi.

BACA JUGA : Paradoks Enigmatic Kreativitas Aparatur Sipil Negara

Imam Al-Ghazali RA. seorang pemilikir Islam, dalam kitab Kimyatus Sa’adah / Kimiya-e Saadat The Alchemy of Happines (499 H / 1105 M): menjelaskan bahwa akal hanyalah panglima, bukan raja. Nalar adalah senjata yang hebar,namun tujuan, orientasi dan mode hidup banyak dipengaruhi oleh Hasrat, Naluri, Nurani, Intuisi,Selera. Singkatnya ; emosi dan pribadi Imam Artinya akal itu hanya pelayan Qolbu sebagai Raja.

Herbert Alexander Simon adalah peneliti di bidang psikologi kognitif, ilmu komputer, administrasi umum, ekonomi dan filsafat. Juga menerangkan bahwa “Nalar/Akal adalah alat belaka. Akal tidak dapat menentukan tujuan hidup manusia, paling jauh akal hanya dapat memberitahu manusia cara untuk sampai ketujuannya”. Bahkan dalam nada yang sangat sinis Herbert A.Simon mengatakan bahwa akal adalah senjata sewaanyang bisa kita gunakan untuk mencapai tujuan apa saja, baik atau buruk ”Hal serupa juga dituliskan Donal B.Calne dalam buku Within Reason.

BACA JUGA : Pancasila, Solusi Mengatasi Krisis Moral Bangsa

Nalar adalah produk biologis,sekedar sarana yang menurut kodratnya terbatas. Nalar meningkatkan mutu cara kita melakukan sesuatu, tapi ia tidak mengubah aspek alasan kita melakukannya. Nalar berkontribusi dalam hal “BAGAIMANA” putusan – putusan itu dibuat dan diwujudkan. Tapi bagian yang lebih penting “ MENGAPA” banyak didorong oleh naluru mempertahankan diri, kebutuhan emosional dan sikap budaya.

Bahkan Blaise Pascal Blaise Pascal, Seorang ahli filsafat dan agama, matematika dan geometri proyektif dari Prancis. penemu teori probabilitas (bersama Pierre de Fermat). Pada puncak kemashurannya menyampaikan bahwa Puncak pencapain nalar/akal manusia adalah kesadaran bahwa ADA BATAS BAGI NALAR.

Tulisan ini tidak bermaksud menyepelekan apalagi menyingkirkan fungsi akal/nalar, namun lebih kepada menyeimbangkan dominasi “akal sehat yang menuhan”. Kritik utama bagi modernitas adalah menempatkan akal pada posisi yang sangat superior dengan memarginalkan emosi dan pribadi Imam dimana ada intuisi, Hasrat, Naluri, Nurani, dan Selera.

Dari tulisan tokoh-tokoh pemikir diatas, penulis pikir memang manusia memiliki akal dan akal itu sehat. Namun kadang menghasilkan tindakan yang tidak sehat atau tidak dapat diterima oleh kelompok masyarakat tertentu. Penyebabnya adalah ketidak pekaan manusia dengan lingkungannya dalam menyampaikan kebenaran.

BACA JUGA : Lakukanlah Sesuatu dengan Ketulusan

Kebenaran tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kontekstasi, karena benar dalam pandangan rasional belum tentu benar dalam pandangan sosial, demikian juga kebenaran kultural belum tentu benar dalam pandangan religius. Sebab pada prinsipnya hidup manusia itu continuitas and change (melanjutkan yang lama sambil melahirkan yang baru), dengan revisi dan pengembangan dari yang sebelumnya.

Pada akhirnya kita akan tiba pada sebuah situasi yang menyadarkan bahwa manusia adalah mahluk yang diberi hak oleh sang pencipta, untuk mengubah nasibnya. Dan pengubahan nasib ini bisa dilihat /didekati/dipelajari pada 12 hukum semesta (alam). 

Dapatkan update berita pilihan setiap hari bergabung di Grup Telegram "KATA BARAKATA", caranya klik link https://t.me/SAHABATKATA kemudian join.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin