Home Warta Nusantara

Ada Kasus Cacar Monyet, Indonesia Belum Larang Perjalanan ke Singapura

94
Ilustrasi, salah satu sudut Kota Singapura yang ramai dikunjungi wisatawan. Warga Batam diimbau menghindari bepergian ke Singapura untuk mencegah penularan virus cacar monyet yang sudah menyerang negara tersebut. (net)

Jakarta – Kementerian Kesehatan Singapura mengidentifikasi kasus penyakit cacar monyet (mongkeypox) di negara itu. Saat ini ada satu pasien dikarantina dan 23 orang kerabat pasien yang dalam pengawasan untuk mencegah penyebaran virus.

Terkait temuan kasus itu, sampai sekarang Pemerintah Indonesia masih melakukan penilaian atau assessment. Pemerintah juga belum mengeluarkan larangan bagi masyarakat yang ingin bepergian ke Singapura.

“Masih dilakukan penilaian. Sejauh ini, belum merilis kebijakan apapun atau imbauan perjalanan (travel advisory)  bagi WNI untuk merespons temuan kasus ini,” kata Kepala Sub Direktorat Kelembagaan dan Diplomasi PWNI-BHI Kemlu Judha Nugraha, kemarin.

Dilansir dari Channel News Asia, Minggu (12/5/19), kasus cacar monyet pertama kali teridentifikasi Ministry of Health (MOH) Singapura pada Selasa (8/5/19) terhadap seorang pria berkebangsaan Nigeria. Pria berusia 38 tahun itu kini dalam masa karantina di National Centre for Infectious Diseases (NCID) MOH.

Dilaporkan, pasien cacar monyet itu sebelum datang di Singapura pada Selasa (28/4/19), menghadiri acara pernikahan keluarganya di Nigeria. Di Singapura, pria itu tinggal di Hotel 81 Orchid, Geylang.

“Saat di acara keluarga, pasien makan daging hewan liar yang diduga mengandung virus cacar monyet. Daging yang dimaksud bisa jadi simpanse, gorila, kijang, burung, atau hewan pengerat,” ujar kementerian.

“Kami telah menawarkan vaksin kepada 23 orang yang sempat kontak dengan pasien sebagai upaya pencegahan. Saat ini kami terus mengawasi kesehatan pasien,” sambung MOH.

Saat ini penyelidikan masih berlangsung. Sebanyak 23 orang telah diidentifikasi sempat melakukan kontak fisik dengan pria itu.

“Meskipun risiko penyebarannya rendah, Kementerian Kesehatan mengambil tindakan pencegahan,” kata kementerian

Penyakit Endemik dan Gejalanya

Badan kesehatan dunia, WHO seperti dikutip Detik menyebutkan, cacar monyet adalah penyakit yang bersifat endemik di Afrika Barat dan Tengah. Kasus cacar monyet biasanya ditemukan di desa dekat hutan hujan tropis yang memungkinkan kontak dengan hewan.

Selain monyet, virus juga bisa dibawa tupai dan berbagai hewan dari keluarga tikus. Virus menular melalui kontak dari hewan ke manusia, sedangkan infeksi dari manusia ke manusia saat ini belum ditemukan kasusnya

Gejala cacar monyet biasanya berlangsung 14 sampai 21 hari meliputi demam, pusing, bengkak di kelenjar getah bening, sakit punggung, otot, dan tidak berenergi. Selanjutnya muncul bintik merah di wajah yang menyebar ke seluruh badan.

Luka berasal dari bintik berisi air yang pecah dan meninggalkan bekas dengan permukaan datar.

Menurut WHO, tidak ada perlakuan khusus menghadapi cacar monyet. Namun penyakit ini bisa sembuh seiring penguatan daya tahan tubuh pasien.

Peluang sembuh makin besar jika pasien sebelumnya tidak punya riwayat sakit atau masalah sistem imun. Infeksi cacar monyet dapat dicegah dengan vaksin untuk cacar

Reuters menulis, monkeypox adalah virus yang mirip dengan cacar yang biasa terjadi pada manusia. Virus ini sebenarnya sudah diberantas pada 1980.

Virus ini tidak menyebar dengan mudah dari orang ke orang tapi dalam kasus yang langka, virus ini dapat berakibat fatal.

Keterangan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit yang berbasis di AS, infeksi virus cacar monyet pada manusia hanya pernah dilaporkan 3 kali di luar Afrika yaitu di Amerika Serikat, Inggris, dan Israel.

*****

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin