Home Kepulauan Riau

842 TKA China di Bintan Sudah Balik Kampung

TKA China di Bintan
Puluhan TKA China saat datang ke PT BAI, Bintan di tengah pademi Covid-19, beberapa waktu lalu. (F: Harjo/Batamtoday)
Himbauan Pemprov Kepri

Barakata.id, Bintan – Sebanyak 842 Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China yang bekerja di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau (Kepri) sudah balik kampung ke negaranya. Pekerjaan mereka di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang telah selesai.

“Jumlah TKA asal China yang sudah kembali ke negaranya berjumlah 842 orang,” ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Bintan, Indra Hidayat di Bintan, akhir pekan lalu.

Indra mengatakan, jumlah tenaga kerja asal China yang masih bekerja di PT Bintan Alumina Indonesia (BAI) di KEK Galang Batang saat ini sebanyak 1.246 orang. TKA tersebut juga akan dipulangkan ke negaranya setelah pekerjaan di perusahaan itu selesai.

“Mereka bekerja berdasarkan kontrak kerja, dalam waktu terbatas, dan sesuai ijin yang diberikan pemerintah. Mereka akan kembali ke China setelah menyelesaikan kewajibannya,” tegasnya.

BACA JUGA : 325 TKA China Tiba di Bintan, Dipastikan Bebas Covid-19

Menurut Indra, pembangunan PLTU dan smelter (pabrik pengelolaan bahan tambang) di PT BAI sudah selesai dikerjakan. TKA yang merupakan tenaga ahli dipastikan kembali ke negaranya, kecuali PT BAI meningkatkan kapasitas smelter sehingga membutuhkan daya listrik yang tinggi.

“PT BAI ada rencana meningkatkan kapasitas smelter sehingga akan membangun PLTU dengan kapasitas yang besar. Tentu dalam proses pembangunan PLTU itu membutuhkan tenaga ahli,” kata dia.

Sebelumnya, Direktur Utama PT BAI, Santoni mengatakan, perusahaan yang dipimpinnya menargetkan ekspor perdana alumina ke Malaysia pada pertengahan tahun 2021.

“Kami mulai ekspor alumina pada Juni atau Juli 2021. Ekspor perdana ke Malaysia,” kata Santoni seperti dilansir dari kepriprov.go.id.

BACA JUGA : Khawatir Corona, Wisman Cina di Bintan Perpanjang Izin Tinggal

Ia mengatakan, PT BAI mulai membeli batu bauksit untuk diolah menjadi alumina pada Maret 2021. Perusahaan itu tidak hanya melirik bauksit lokal seperti dari Pulau Bintan, Lingga dan Karimun, melainkan juga wilayah lainnya.

“Tahun ini, PT BAI menargetkan 1 juta ton untuk dikelola menjadi alumina,” katanya.

Perusahaan dengan realisasi investasi lebih dari Rp13 triliun di-KEK Galang Batang, Bintan itu belum melakukan ekspor ke perusahaan penerbangan Amerika Serikat karena produksi tahap awal dari pabrik pengelolaan hasil tambang (smelter) baru memproduksi alumina. Sementara kebutuhan perusahaan penerbangan Amerika Serikat adalah alumunium.

“Untuk memproduksi alumunium, perusahaan harus meningkatkan kapasitas pabrik dan mesin ke tahap ketiga. Sekarang perusahaan kami baru masuk tahap pertama,” kata dia.

*****

Editor : YB Trisna

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda di sin